Dinas Pariwisata Kota Palembang


Selayang Pandang



a. Sejarah berdirinya Kota Palembang

Didirikan 16 Juni tahun 683 M (605 Saka) oleh Dapunta Hyang berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit bertulis huruf Pallawa dan berbahasa Melayu kuno dan merupakan kota tertua di Indonesia.

b. Tahapan fase pertumbuhan kota Palembang

  • Jaman Kerajaan Sriwijaya
    Palembang pernah menjadi pusat kerajaan Sriwijaya selain itu juga sebagai pusat perdagangan antar Negara melalui laut Cina dan Selat Malaka serta sebagai pusat agama Budha diperkuat dengan adanya Prasasti Dewapaladewa yang ditemukan di Napalanda(India) menyatakan bahwa Raja Sriwijaya Balaputradewa berasal dari Swarnadwipa dan membuat sebuah Biara.  Bahkan pembangunan Candi Borobudur tidak terlepas dari bantuan raja-raja Sriwijaya. Peninggalan sejarah masa ini antara lain Situs Kerajaan Sriwijaya dan Bukit Siguntang.
  • Jaman Kesultanan Palembang
    Sejak runtuhnya kerajaan Sriwijaya pada abad ke-13 hingga abad ke -16 Palembang dikuasai penguasa Hindu yang tunduk dengan Kerajaan Majapahit. Proses masuk dan berdirinya kerajaan Islam di Palembang terkait dengan perkembangan agama Islam di pulau Jawa seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit. Aria Damar (Ario Dillah) adalah seorang raja Palembang adalah orang yang berjasa membina Raden Fatah (putra Raja Majapahit yang lahir di Palembang) yang kemudian berhasil mengalahkan Raja Giridrawrdhana dan mendirikan Kerajaan Demak.
    Adanya suksesi terjadi di Kesultanan Demak mengakibatkan pindahnya sekelompok bangsawan Demak ke Palembang yang dipimpin oleh Ki Gede Ing Suro yang pada tahun 1552 mendirikan Kesultanan Palembang Darussalam meliputi kawasan Batanghari Sembilan yakni Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Lampung dan Bengkulu.
    Kesultanan Palembang Darussalam meletakkan agama Islam sebagai dasar Negara dan para ulama mendapatkan kedudukan sangat tinggi terbukti para ulama dimakamkan dalam satu kompleks dengan Sultan Palembang seperti di makam Kawah Tekurep dan Makam Cinde Walang. Masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (SMB I) pada awalnya pusat Kesultanan berada di kawasan Kuto Gawang dan baru tahun 1737 yaitu pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo dibangun keratin Lama di tepian Sungai Musi.
    Perlawanan terhadap Belanda dipimpin lansung oleh Sultan Mahmud Badaruddin II (terlahir dengan nama Raden Hasan) dengan memerintahkan pengusiran dan pembongkaran loji Belanda di sungai Aur. Belanda menggunakan cara licik menangkap SMB II pada tahun 1821 saat memenuhi undangan Belanda untuk berunding kemudian dibawa ke Batavia dan akhirnya meninggal tanggal 22 Nopember 1852 di Ternate tempat pengasingan beliau.
    Tampuk pemerintahan Palembang dialihkan kepada keponakan SMB II yaitu Prabu Anom bergelar Sultan Ahmad Najamuddin IV. Sultan terakhir Palembang ini memberontak melawan Belanda akhirnya tertangkap tahun 1825 sebelumnya diasingkan ke Menado tahun 1841 dan menandai berakhirnya kekuasaan Kesultanan Palembang.
  • SILSILAH KEPEMIMPINAN SULTAN PALEMBANG DARUSSALAM

    NO.

    NAMA RAJA/SULTAN/PENGUASA

    TAHUN BERKUASA

    1

    Ariodilla (Ario Damar)

    1455-1486

    2

    Pangeran Sido Ing Lautan

    1547-1552

    3

    Ki Gede Ing Suro

    1552-1573

    4.

    Ki Gede Ing Suro Mudo

    1573-1590

    5

    Ki Mas Adipati

    1590-1595

    6

    Pangeran Madi Ing Sangsoko

    1595-1629

    7

    Pangeran Madi Alit

    1629-1630

    8

    Pangeran Sido Ing Puro

    1630-1639

    9

    Pangeran Sido Ing Kinayan

    1639-1650

    10

    Pangeran Sido Ing Pasarean

    1650-1652

    11

    Pangeran Sido Ing Rajek

    1652-1659

    12

    Pangeran Ario kesuma

    1659-1706

    13

    Sayyidul Imam

    1706-1714

    14

    Sultan Muhammad Mansyur Jayo Ing Lago

    1714-1724

    15

    Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (I)

    1724-1758

    16

    Sultan Susuhunan Ahmad Najamudin

    1758-1776

    17

    Sultan Mahmud Badaruddin I

    1776-1803

    18

    Sultan Mahmud Badaruddin II

    1804-1821

    19

    Sultan Ahmad Najamudin Pangeran Ratu

    1821-1825

  • Jaman pra kemerdekaan
    Pada masa kolonial Sumatera Selatan dikenal sebagai sumber minyak yang merupakan penghasilan utama Belanda untuk pembangunan seperti kilang minyak Plaju mulai beroperasi tahun 1900, kilang minyak Sungai Gerong yang selesai dibangun tahun 1926. Bangunan peninggalan masih ada sampai sekarang adalah Kantor Walikota, SMP 1, Gedung Jacobsen VD Berg, Hotel Musi(kantor BKD), Gedung BP7, Gereja ayam dan lain-lain.
    Pada tanggal 1 April 1906 pemerintah colonial Belanda menetapkan Palembang sebagai kota.  Pada masa pendudukan Jepang hanya beberapa bunker perlindungan yang sebenarnya lebih merupakan kebutuhan tentara Jepang sendiri.
    Pada tanggal 22 Agustus 1945 berita kemerdekaan sampai ke Palembang dan lansung disebarluaskan oleh Dr. A.K. Gani sekaligus menyatakan Palembang sebagai bagian dari RI. Belanda ingin kembali berkuasa sehingga memicu perlawanan rakyat Palembang yang terkenal dengan pertempuran lima hari lima malam di pusat kota.
  • Palembang awal masa pembangunan
    Beberapa pembangunan pada masa Walikota Ali Alimin (1955) antara lain :
    • pembangunan/peluasan pasar-pasar
    • pembangunan perumahan di sungai Buah dan Talang Ratu
    • pembangunan instalasi air minum
    • memperjuangkan pembangunan jembatan Musi
    • Pembebasan tanah untuk pembangunan pabrik pupuk Sriwijaya dan Unsri
    • Pembangunan stadion Kamboja
    • Pembangunan jalan Tangga Buntung – Gandus
    • pembangunan jembatan Ampera tahun 1962
    • pembangunan/peningkatan jalan utama seperti jalan jend. Sudirman, jalan Veteran dan jalan A.Yani
      • Palembang sekarang
      • Palembang emas

      Foto jembatan Ampera, logo kota Palembang, logo website, logo kementerian pariwisata ekonomi kreaktif, wonderful, sapta pesona